Sabtu, 16 Juli 2011

Materi Puisi (Agus)

Berbicara puisi berarti kita membicaran juga mengenai pengalaman terdalam yang pernah, sedang dan tengah kita alami. Tak perlu disangkal lagi bahwa puisi memang berbeda dengan karya-karya sastra lainnya.

Secara umum, karya tulis dibagi menjadi tiga bagian.

1. non-fiksi

2. fiksi

3. puisi

Sedikit mengherankan memang mengapa puisi tidak dimasukkan ke dalam ranah fiksi, namun ia justru berdiri sendiri. Indenpent. Agaknya sifat-sifat puisi yang cenderung “susah ditangkap”, “bebas” “lepas” dan multi tafsirlah yang membedakan puisi dari saudara serumpunnya.

Unsur-unsur Puisi

1. Diksi

Merupakan pilihan kata yang membangun rangkaian metafor. Pilihan kata yang baik merupakan pilihan kata yang menopang kekuatan kata sebelumnya. Kata-kata yang segar, baru dan unikakan semakin memperindah sebuah diksi.
2. Metafor

Merupakan bentuk perumpamaan yang disajikan dalam melukiskan suatu maksud dalam puisi. Misalnya seseorang yang ingin mengibaratkan usia seseorang yang tidak kekal, ia memilih daun sebagai metafor kefanaan. Daun pada mulanya kuncup, hijau, kuning, tua dan mati. Seperti itu jugalah usia darimanusia.
3. Citraan

Bisa bersifat rabaan, pendengaran, penglihatan dan sebagainya.
4. Tipografi

Merupakan bentuk sajian bait perbait dari sebuah puisi. Apakah ditulis lurus, zigzag, membentuk prosa dan sebagainya. (www.anneahira.com)

Puisi yang bagus, berangkat dari suatu hal yang “meresahkan” lubuk hatinya. Oleh karena itu puisi-puisi yang “bernilai magis” bisa dirasakan oleh segenap pembacanya sekaligus mampu bertahan dalam gempuran zaman. Selalu ada nilai-nilai unik dalam membaca puisi yang benar-benar ada perasaan mendalam dari sang penulis padaa karya puisinya.

Oleh karena itu, para penyair secara tidak langsung turut bertanggung jawab dalam menyebarkan semangat pembaruan, pergolakan batin dan pembaharuan dalam segenap zaman. Sedikit berbeda dengan baik cerpen dan novel yang mempunyai banyak unsure-unsur pembentukkannya. Novel dan cerpen memiliki apa yang disebut dengan unsur pembangun cerita. Unsur intrinsik dan ekstrinsik sebuah novel atau sebuah cerpen bisa saja sedikit imajinatif dalam merangkaikannya. Anda bisa mengolah sedemikian rupa sehingga cerita yang terbangun bisa lebih menarik. Namun sebuah puisi berangkat dari sebuah kejujuran, pengalaman mendalam seorang penyair sehingga pembaca mengerti dan ikut merasakan kepedihan, kegembiraan, emosi dari sang penyair.

Menarik untuk disimak dan dirasakan bahwa puisi menempati bagian lebih banyak dalam mengolah emosi daripada bentuk-bentuk fiksi. Tersebab puisi mengambil bagian perasaan yang paling banyak, yang meskipun menggunakan diksi sedemikian rupa agar terlihat menarik, namun bagian “kejujuran” dan “emosi” paling tidak bisa ditutup-tutupi. Sebab puisi mewaklili kegelisahan mendalam dari sebuah penyair.

Sebuah cerpen atau novel bisa saja berangkat murni dari sebuah imajinasi, harry potter dan nibiru sebagai contohnya. Namun sekali lagi puisi, senantiasa berangkat dari apa yang paling menggelisahkan hatinya. Oleh karena itu selalu saja terasa berbeda membaca puisi yang benar-benar ditimang dan dirawat dengan sungguh-sungguh dibandingkan dengan puisi yang 5 menit jadi. Meski sama-sma bagus, “rasa” itu tentunya berbeda.

Sebagaimana masakan, tentunya berbeda antara masakan rumah dengan masakan restaurant.

Membuat puisi

Membuat puisi, meski puisi adalah “haram” untuk diteorikan (sebagian penyair berpendapat bahwa puisi tidak bisa diajarkan namun bisa dipelajari) namun kita akan mencoba melakukan pendekatan-pendekatan dalam membuat puisi. Hal itu bisa dilihat dalam blog saya di www.senjautama.multiply.com yaitu tentang table da vinci dan table kata benda acak.

Yang ingin ditekankan dalam bahasan kali ini adalah table kata benda acak. Table kata benda acak adalah menghubungkan 2 kata benda yang berbeda sehingga membentuk sebuah hubungan. Hal ini bisa dilakukan bagi penyair pemula untuk menuliskan puisi yang “unik” dan “luas”. Apa hubungannya pintu dengan mata? Sekilas Nampak tidak berhubungan namun dengan segenap kreativitas yang dipunya oleh penyair maka kedua hal itu bisa saja dilakukan sekaligus memperkaya khasanah perbendaharaan kata-kata.

Hal yang paling ditekankan oleh penyair kawakan kepada penyair muda adalah banyak membaca karya-karya puisi, coba rasakan “kegalauan” mereka, resapi dan setelah menangkap maksud dan emosi dari sang penyair maka cobalah membuatnya versi sendiri. Hanya itu satu-satunya cara agar mahir berpuisi.

Sumber bacaan lainnya:

1. http://endonesa.wordpress.com/2008/09/08/puisi-definisi-dan-unsur-unsurnya/

2. http://id.shvoong.com/humanities/1935362-puisi/

3. http://penyair.com/


http://senjautamadinihari.multiply.com/journal/item/10/Materi_Puisi_Batre_9

Tidak ada komentar: